Jenis-jenisnya adalah :
1.
RASIONALISME
Rasionalisme adalah mashab filsafat ilmu
yang berpandangan bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan
demikian criteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Strategi
pengembangan ilmu model rasionalisme, dengan demikian adalah mengeksplorasi
gagasan dengan kemampuan intelektual manusia.
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah
doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui
pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman,
dogma, atau ajaran agama.
Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat
rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir
bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit
kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes.
Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern
terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang
ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.
2.
EMPIRISME
Empirisme adalah sebuah orientasi
filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode
ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersufat terbatas
pada apa yang dapat diamati dan diuji.oleh karena itu aliran empirisme memiliki
sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh
ilmu. Strategi utama perolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan
penerapan metode ilmiah.
aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa
semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan
bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.
Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George
Berkeley dan John Locke.
3.
REALISME
Dalam
pemikiran filsafat, realism berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada
pengalaman inderawi ataupun gagasan yang terbangun dari dalam. Dengan demikian
realism dapat dikatakan sebagai bentukpenolakan terhadap gagasan ekstrim
idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realism memberikan
teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realism dalam konteks
pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari 2 hal, yaitu
observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam
konteks ini, ilmuan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang
secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
4.
IDEALISME
Idealism
adalah tradisi pemikiran filsafat yang berpandangan bahwa doktrin tentang
realitas eksternal tidak dapat dipahami secara terpisah dari kesadaran manusia.
Dengan kata lain kategori dan gagasan eksis di dalam ruang kesadaran manusia terlebih
dahulu sebelum adanya pengalaman-pengalaman inderawi.
Idealisme berasal dari kata ide yang artinya
adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal
bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Realitas sendiri
dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, pikiran, diri, pikiran mutlak,
bukan berkenaan dengan materi. Kata idealisme pun merupakan istilah yang
digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18. Ia
menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan
materialisme Epikuros.
Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang
memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari
abad 17 sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam
pengklarifikasian filsafat. Tokoh-tokoh lain cukup banyak ; Barkeley, Jonathan
Edwards, Howison, Edmund Husserl, Messer dan sebagainya.
5.
POSITIVISME
Positivism
adalah doktrin filosofi dan ilmu pengetahuan social yang menempatkan peran
sentral pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu pengetahuan dan
penelitian. Terminologi positivism dikenalkan oleh Auguste Comte untuk menolak
doktrin nilai subyektif, digantikan oleh fakta yang bisa diamati serta
penerapan metode ini untuk membangun ilmu pengetahuan yang diabdikan untuk
memperbaiki kehidupan manusia.
Istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan
istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada
abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami
dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya
ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena
masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian
juga alam.
6.
PRAGMATISME
Pragmatism
adalah mashab pemikiran filsafat ilmu yang diperoleh oleh C.S.Peirce, William
James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S Schiller dan Richad Rorty.
Tradisi pragmatism muncul atas reaksi terhadap tradisi idealis yang dominan
yang menganggap kebenaran sebagai entitas yang abstrak, sistematis dan refleksi
dari realitas. Pragmatism berargumentasi bahwa filsafat ilmu haruslah
meninggalkan ilmu pengetahuan transedental dan menggantinya dengan aktifitas
manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para penganut mashab pragmatisme ilmu
pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah perjalanan dan bukan sebuan. tujuan
7.
UTILITARIANISME
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis,
yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini
juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness
theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh
Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill.
Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang
berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan.
Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah,
dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari
segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah
teori tujuan perbuatan.
8. IDEALISME
Idealisme berasal dari kata ide yang artinya
adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal
bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Realitas sendiri
dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, pikiran, diri, pikiran mutlak,
bukan berkenaan dengan materi. Kata idealisme pun merupakan istilah yang
digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18. Ia
menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme
Epikuros.
Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang
memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari
abad 17 sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam
pengklarifikasian filsafat. Tokoh-tokoh lain cukup banyak ; Barkeley, Jonathan
Edwards, Howison, Edmund Husserl, Messer dan sebagainya.
9. PRAGMATISME
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya
sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat
secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang
penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada
individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa
yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta
individual dan konkret. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima
begitu saja.
Representasi atau penjelmaan realitas yang
muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan
fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan
kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana
yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
1 Materialisme
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan
isme. Materi dapat dipahami sebagai bahan; benda; segala sesuatu yang tampak.
Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang
termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan
mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.
Sementara
itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai
materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme
atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta,uang,dsb). Maka
materilisme adalah paham yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan
benar-benar ada adalah materi.
Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan
semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya
substansi. Kemudian, istilah inipun sering digunakan dalam filsafat.
Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham
ini adalah Epikuros. Ia merupakan salah satu filsuf terkemuka pada masa
filsafat kuno. Selain Epikuros, filsuf lain yang juga turut mengembangakan
aliran filsafat ini adalah Demokritos dan Lucretius Carus. Pendapat mereka
tentang materialisme, dapat kita samakan dengan materialisme yang berkembang di
Prancis pada masa pencerahan. Dua karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal
mewakili paham ini adalah L'homme machine (manusia mesin) dan L'homme plante
(manusia tumbuhan).
Dalam waktu yang sama, di tempat lain muncul
seorang Baron von Holbach yang mengemukakan suatu materialisme ateisme.
Materialisme ateisme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang tidak mengakui
adanya Tuhan secara mutlak. Jiwa sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak.
Pada Abad 19, muncul filsuf-filsuf materialisme asal Jerman seperti Feuerbach,
Moleschott, Buchner, dan Haeckel. Merekalah yang kemudian meneruskan keberadaan
materialisme.
11. HUMANISME
Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai
jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam
masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah
menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai
seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal
yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu. Humanisme modern
dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi dan Humanisme Sekular.
Diantara tokoh-tokoh Humanisme: Abraham Maslow,
Albert Einstein, Bertrand Russell, Carl Rogers, Cicero, Edward Said, Erasmus,
Gene Roddenberry, Hans-Georg Gadamer, Dr. Henry Morgentaler, Isaac Asimov,
Israel Shahak, Jacob Bronowski.
12. FEMINISME
Tokoh feminisme disebut Feminis adalah sebuah
gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak
dengan pria. Mengenai latar belakang lahirnya gerakan feminisme adalah ketika
pada waktu itu setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792
berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki
dalam realitas sosialnya.
Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas,
menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan
pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah,
kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapan hukum.
Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk
perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.
Gerakan feminisme berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh
Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Sedangkan mengenai
tokoh-tokoh yang terkenal dalam faham feminisme diantaranya adalah Foucault,
Naffine, Derrida (Derridean
13. EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang
pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya
yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak
benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak
benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif,
dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya
benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar
dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme
mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat
kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah
melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas
itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme
menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan
itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme
paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya
"human is condemned to be free", manusia dikutuk untuk bebas, maka
dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling
sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana
kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah
eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi
eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia,
maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu
lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu
harus menjadi “seorang yang lain daripada yang lain”, sadar bahwa keberadaan
dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan
membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari
eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan
sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme.
Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti
dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan
oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang
tua, atau keinginan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar